Kenalan sama Dita
24 tahun, kerja kantoran. Lagi sering kepikiran kerjaan sampai susah tidur.
DEMO LUMA
Ikutin cerita Dita dari awal sampai akhir. Semuanya cuma contoh, jadi klik-klik aja.
24 tahun, kerja kantoran. Lagi sering kepikiran kerjaan sampai susah tidur.
Ceritanya
“Kepikiran kerjaan terus, bahkan setelah jam kerja.”
soal perasaan dan rasa cemas. Ada dua yang boleh dilewati.
Kebaca semua
Luma cuma lihat yang kelihatan dari foto.
SESI NGOBROL
Luma nanya, Dita cerita. Pelan-pelan mereka nemu kenapa Dita susah lepas dari kerjaan.
Teman cerita AI · bukan dokter
Luma lagi ngomong
Ini cuplikan singkat dari 18 menit ngobrol.
TENANGIN DIRI DULU
Sambil nunggu hasil, Luma ngajak tarik napas sebentar. Coba aja, ini nggak disimpan.
Tarik napas, terus buang pelan-pelan.
HASIL SESI
Tiap bagian ada sumbernya. Kalau ada yang nggak pas, Dita bisa benerin atau tolak.
Tadi kamu udah nyoba Atur napas pelan-pelan · tercatat 7 → 5
Kamu cerita deg-degan dan nggak tenang tiap ada chat kerja di malam hari.
Pikiran "kalau nggak bales, aku dianggap malas" muncul cepat dan bikin kamu langsung buka laptop lagi.
Kerja sampai jam 12 bikin kamu cuma tidur 5 jam, dan besoknya lemes.
Besoknya kamu susah fokus di kantor, dan di Minggu sore pun susah santai.
Taruh HP kerja di luar kamar mulai jam 9 malam. Coba 3 hari dulu.
Dari ceritamu. Ringan, sedang, berat itu cuma gambaran kasar, bukan skor kesehatan. Bagian yang belum punya dua sumber ditandai belum cukup data.
Overthinking paling banyak muncul di ceritamu, 37% dari yang Luma tangkap di sesi ini.
Bawah mata sedikit gelap
Bahu agak maju
Lapisan tipis di belakang lidah
Cahaya dan sudut foto memengaruhi hasil.
5 dari 5 sumber ikut dihitung di hasil ini.
Foto cuma nunjukin keadaan sesaat, jadi belum bisa dibandingin sama hari lain.
Ceritamu baru dari dua kejadian, jadi gambarannya masih bisa berubah.
Persentase ini porsi tiap label dari yang Luma tangkap di sesi ini, bukan peluang kamu mengalami suatu kondisi.
Memikirkan ulang atau membayangkan skenario secara berputar-putar di siang hari sampai sulit memutuskan atau bertindak; berbeda dari insomnia karena pikiran aktif yang terutama mengganggu tidur.
“akhir-akhir ini aku kepikiran kerjaan terus”Dari obrolan
“seharian nggak bisa santai, kepikiran terus”Dari obrolan
“Kepikiran kerjaan terus, bahkan setelah jam kerja”Dari isianmu
Kelelahan emosional karena tuntutan pekerjaan atau peran hidup yang lama, disertai sinis dan merasa tidak efektif; terkait peran tertentu, berbeda dari stres kronis yang lebih umum.
“besoknya lemes dan susah fokus di kantor”Dari obrolan
“kerja sampai jam dua belas”Dari obrolan
Tekanan yang terasa terus-menerus selama berminggu-minggu karena beban yang tidak kunjung reda, bukan ketegangan sesaat menjelang satu kejadian.
“Udah pulang pun kepala masih di kantor”Dari obrolan
“Seharian nggak bisa santai”Dari isianmu
Ada tanda kesejahteraan yang diceritakan sendiri: mampu mengelola emosi, punya dukungan, dan menjalani keseharian dengan cukup baik.
“Kalau sempat jalan sore bentar, kepala agak plong”Dari obrolan
“Ada teman kantor yang enak diajak cerita”Dari obrolan
Kuesioner ini cuma bantu kamu dan Luma ngerti ceritamu. Hasilnya bukan diagnosis dan bukan pemeriksaan dari profesional.
Kuesioner ini kamu lewati.
Kuesioner ini kamu lewati.
Kalau keduanya beda, itu juga ada artinya. Luma nampilin dua-duanya, nggak milih salah satu.
Dibaca dari ceritamu, bukan diagnosis. Di tiap kartu ada sumbernya.
Ini hal-hal di ceritamu yang mungkin saling nyambung tanpa kamu sadari. Anggap aja dugaan yang kamu cek sendiri, bukan kepastian.
Kelihatannya ada lingkaran: makin takut dianggap malas, makin lama kamu kerja. Makin capek, makin gampang cemas.
Chat malam memunculkan rasa takut dianggap malas, kamu kerja lagi sampai larut, tidurmu jadi pendek, dan besoknya kamu lebih gampang cemas.
Bisa juga kerjaan minggu ini memang lagi padat, jadi bukan cuma soal takut dinilai.
Ada langkah kecil buat ini di tab Langkah & dukungan.
Telat bales chat langsung kamu artikan sebagai tanda malas, padahal belum tentu atasanmu mikir begitu.
Pikiran "kalau nggak bales, aku dianggap malas" muncul cepat dan terasa seperti fakta, jadi kamu langsung bertindak.
Bisa jadi di kantormu memang ada kebiasaan bales cepat, jadi rasa takutmu ada dasarnya.
Waktu sempat jalan sore, kepalamu terasa lebih plong, walau jarang kesampaian.
Jalan sore kasih jeda dari kerjaan, jadi pikiranmu sempat istirahat sebentar.
Bisa juga yang bikin plong itu suasana sorenya, bukan jalannya.
Ada langkah kecil buat ini di tab Langkah & dukungan.
Urutan yang kamu tulis di isian: situasi, pikiran, perasaan, reaksi, lalu akibatnya.
Jam 9 malam atasan kirim chat soal laporan.
Kalau nggak bales, aku dianggap malas.
Deg-degan, nggak tenang.
Buka laptop lagi dan kerja sampai jam 12.
Cuma tidur 5 jam, besoknya lemes.
Minggu sore iseng cek email kantor.
Masih ada kerjaan yang belum beres, harusnya aku cicil sekarang.
Nggak bisa santai, kepikiran terus.
Bolak-balik buka email sampai malam.
Seharian nggak bisa santai.
Seberapa sering ini balik lagi dan ganggu keseharian, lihat di kartu Dampak keseharian.
Mungkin rasa takut dianggap malas yang bikin kamu susah lepas dari kerjaan, bukan cuma banyaknya kerjaan.
Kamu cerita kepikiran kerjaan terus, bahkan setelah pulang. Chat atasan jam 9 malam bikin kamu buka laptop lagi sampai jam 12.
Dua kejadian yang kamu ceritain mirip: ada kabar kerja di luar jam kerja, muncul rasa takut dianggap malas, lalu kamu susah lepas dari kerjaan.
Ada teman kantor yang enak diajak cerita, tapi biasanya cuma pas makan siang.
Mungkin rasa takut dianggap malas yang bikin kamu susah lepas dari kerjaan, bukan cuma banyaknya kerjaan. Ini dugaan, kamu yang paling tahu.
Kamu mau coba taruh HP kerja di luar kamar mulai jam 9 malam selama 3 hari, sambil catat jam tidur dan stres tiap pagi.
Penilaian ini masih tahap percobaan.
Gangguan istirahat
Berdampak saat siangKeterulangan kekhawatiran
BerulangAkhir-akhir iniDampak aktivitas
Sebagian aktivitas tergangguBantuan dari coping
Membantu sebentarAkses dukungan
Tersedia pada waktu tertentu12 dari 14 hari terisi. Naik-turunnya baru dihitung kalau minimal 4 hari terisi.
Ketiga foto terbaca jelas. Yang kelihatan ringan dan umum: area bawah mata sedikit gelap, bahu agak maju, dan lapisan tipis di belakang lidah.
Ini cuma yang kelihatan di foto. Cahaya dan sudut foto bisa memengaruhinya. Luma nggak menganggapnya sebagai penyebab perasaan atau pikiran yang dibahas di tab lain.
Area bawah mata tampak sedikit lebih gelap. Ini umum terlihat dan belum menunjukkan kondisi tertentu.
Bisa juga cuma bayangan dari cahaya ruangan.
Sebaran kemerahan
Tidak tampakSebaran bercak lebih gelap
Tidak tampakSebaran bintil
Satu areaBahu tampak sedikit maju dan punggung agak membungkuk di foto ini.
Bisa juga karena posisi berdiri sesaat waktu foto diambil.
Posisi tinggi bahu
Tampak setaraPosisi kepala
Tampak di tengahLapisan tipis keputihan di bagian belakang lidah umum terlihat.
Bisa juga dipengaruhi makanan atau minuman sebelum foto.
Sebaran lapisan lidah
Satu areaVariasi warna lidah
Relatif seragamAlur permukaan lidah
Tidak tampakTadi kamu udah nyoba Atur napas pelan-pelan · tercatat 7 → 5
Ini cuma latihan ringan buat bantu kamu sekarang, bukan pengobatan.
Taruh HP kerja di luar kamar mulai jam 9 malam. Coba 3 hari dulu.
Dari langkah kecil di sesi ini, yang kamu nilai Membantu: Taruh HP kerja di luar kamar mulai jam 9 malam. Coba 3 hari dulu., Atur napas pelan-pelan.
Bantuan dari coping: Membantu sebentar Obrolan
Di check-in 14 hari, kamu nyatet istirahat (4 hari), ngobrol sama seseorang (3 hari), scroll media sosial (2 hari), olahraga (2 hari), menunda (2 hari) buat meredakan perasaan. Check-in 14 hari
Check-in 30 detik tiap hari, plus langkah kecil buat hari ini.
Langkah kecil hari iniJalan santai 10 menit sepulang kerja, dua kali minggu ini.
Lihat naik-turun stres, tenaga, dan tidurmu.
Rencanain, coba, terus catat rasanya gimana.
Misalnya tidur Dita: dari “sedang” jadi “ringan” setelah 3 sesi.
Nggak perlu siap-siap. Mulai aja dari yang kamu rasain hari ini.